MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
MANUSIA
Manusia sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karena persoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu ataupun latar belakang historis kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut tata hubungan atar dirinya sebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen.
Manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat yaitu “Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).
Tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah
1. Manusia diciptakan untuk mengabdi (QS. Adz Dzariyat ayat 56
Artinya : Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepadaku.
2. Sebagai khalifa dimuka bumi (QS. Al Baqarah ayat 30)
Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.
ALAM SEMESTA
Alam Semesta adalah segala sesuatu yang ada pada diri manusia dan di luar dirinya yang merupakan suatu kesatuan system yang unik dan misterius. Alam semesta juga dapat didefinisikan segala sesuatu yang ada atau yang dianggap ada oleh manusia didunia ini selain Allah SWT beserta Dzat dan sifat-Nya.
Alam semesta merupakan ciptaan Allah yang diurus dengan kehendak dan perhatian Allah. Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains
Alam semesta diciptakan oleh Allah jauh sebelum manusia pertama (Nabi Adam) diciptakan. Alam semesta diciptakan dengan tatanan yang sangat rapi, teratur, serasi, dan seimbang. Segala sesuatu yang ada di alam bekerja harmonis menurut hukum alam (sunnatullah) dan prinsip keseimbangan. Ketika satu tatanan dirusak, maka secara sunnatullah, sistem alam akan bekerja untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu karena kerusakan tersebut. Ketika keseimbangan sudah tercapai, maka unsur tersebut akan kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Tujuan alam diciptakan adalah bukan untuk dirusak, dicemari, dan dihancurkan. Akan tetapi adalah untuk difungsikan semaksimal mungkin dalam kehidupan. Tujuan alam diciptakan juga bukan untuk disembah, dikultuskan, dan dimintai pertolongan. Akan tetapi adalah untuk dikelola, dibudidayakan, dan dimanfaatkan dalam kehidupan. Pada akhirnya alam diciptakan hanya sebagai fasilitas semata bagi manusia untuk mengenal dan lebih mendekatkan diri pada Allah.
Menurut Teori Big Bang
Alam semesta telah diciptakan sekitar 15 miliar tahun yang lalu.Tidak seorangpun tahu kenapa, mengapa, dan bagaimana alam semesta ini terbentuk.Akan tetapi, dari beberapa penelitian yang memakan waktu yang lama.
Pada abad ke 19, banyak orang mempercayai teori alam semesta yang tetap. Teori ini mengatakan bahwa alam semesta tidak memiliki permulaan, dengan kata lain alam semesta ini telah ada sejak dahulu kala dan tidak berubah (statis). Pada abad 20 muncul suatu teori baru tentang penciptaan alam semesta, yaitu teori Big Bang.Teori ini mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan.Pada teori ini, dikatakan bahwa alam semesta terbentuk karena sebuah ledakan besar yang disebut Big Bang. Bukti -bukti yang ditemukan membenarkan teori ini seperti ditemukannya sisa-sisa gema radiasi dentuman dari ledakan tersebut.
Menurut Al-Quran
Menurut pandangan Al Quran, penciptaan alam semesta dapat dilihat pada surat Fussilat 11-12.
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “ Datanglah kamu keduanya menuruti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”
“ Maka Dia menjadikannya 7 langit dalam 2 masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya`” ( Fushshilat 11-12).
Surat ini menerangkan bahwa yang pertama kali Allah ciptakan sebelum ada bintang-bintang dan galaksi, adalah bumi, kemudian Allah swt siapkan makanan di bumi bagi subject utama penciptaan alam semesta , yaitu manusia.
Didalam QS. Al Anbiya 30, QS At Tha-ha 53, dan QS. An Nur 45, ketiga ayat tersebut disebutkan bahwa “setelah air diturunkan air ke bumi, maka sebelum Allah ciptakan hewan , tentunya yang terlebih dahulu Allah cipakan adalah tumbuh-tumbuhan sebagai cadangan makanan hewan. Kemudian hewan-hewan ada juga yang menjadi cadangan makanan untuk hewan-hewan predator. Semua jenis hewan, baik burung maupun hewan darat, ternyata menurut ilmu pengetahuan memang asal-usulnya dari hewan air.
Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan Allah, maka segala sesuatu yang ada di alam ini Allah yang mengatur semuanya dan Allah juga yang berkehendak untuk menetapkan semua yang ada di alam semesta ini. Sunnah/ketetapan Allah antara lain sebagai berikut :
a. Selalu ada dua kondisi saling ekstrim (surga-neraka, baik-buruk, benar-salah)
b. Segala sesuatu diciptakan saling berpasangan, saling cocok atupun saling bertolakan
c. Selalu terjadi pergantian dan perubahan dari suatu kondisi yang saling berbeda
d. Perubahan, penciptaan, maupun penghancuran selalu melewati suatu proses
e. Alam diciptakn dengan keteraturan
f. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang
g. Alam diciptakan terus berkembang
h. Setiap terjadi kerusakn di alam manusia, Allah mengutus seseorang untuk memberi peringatan atau memperbaiki kerusakan tersebut.
Pada intinya, Allah menciptakan alm semesta beserta isinya dilengkapi dengan hukum-hukum (sunnatullah). Dan jika hukum-hukum tersebut dilanggar, maka alam akan hancur. Itulah hakikat sunnatullah yang telah ditentukan oleh Dzat Yang Maha Tinggi sebagai Sang Pencipta, Pengatur dan tempat kembali seluruh alam.
KEDUDUKAN MANUSIA DALAM ALAM SEMESTA
Menurut Zuhairini, dkk. (1995) merumuskan kedudukan manusia dalam alam semesta sebagai berikut:
a) Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian Allah, didasarkan pada surah Al-Jum'at ayat 10 dan Al Baqarah ayat 60;
b) Sebagai peneliti alam dan dirinya untuk mencari Tuhan, didasarkan surah Al Baqarah ayat 164, Al-Fathir ayat 11 & 13
c) Sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi, didasarkan pada surah Al-An'am ayat 165;
d) Sebagai makhluk yang paling tinggi dan mulia, didasarkan surah At-Tin ayat 4 dan Al-Isra ayat 70
e) Sebagai hamba Allah SWT. sesuai surah Al Imran ayat 83
f) Sebagai makhluk yang bertanggungjawab, didasarkan pada surah At-Takasur ayat 8, dan An-Nur ayat 24-25 ;
g) Sebagai makhluk yang dapat didik dan mendidik, sesuai surah Al Baqarah ayat 31 dan Al-Alaq ayat 1-5.
Abuddin Nata (1997) berpendapat kedudukan manusia di alam raya sebagai khalifah yang memiliki kekuasaan untuk mengelola alam dengan menggunakan segenap daya dan potensi yang dimilikinya, serta sebagai 'abd, yaitu seluruh usaha dan aktivitasnya harus dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.
HUBUNGAN MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Manusia dan alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sunnatullah-nya, manusia membutuhkan alam untuk kesejahteraan hidupnya. Sebaliknya, alam membutuhkan manusia untuk mengelola seluruh kekayaan alam yang ada di dalamnya.
Hubungan antara manusia dan alam menurut firman Allah dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 20 berikut ini.
"Tidaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan."
Dari ayat tersebut, kita bisa memahami ternyata seluruh alam semesta dengan semua bentuk keteraturannya dan hukum-hukum yang berlaku kemudian diserahkan lalu ditundukkan pada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan. Manusia yang merupakan bagian dari alam semesta itu sendiri kemudian diberi wewenang dan kepercayaan untuk mengelola alam semesta. Manusia kemudian diberi kedudukan istimewa, yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Hubungan Historis
Asal usul manusia dikaitkan dengan keberadaan alam semesta ini dilandaskan pada adanya persamaan bentuk morfologis dan fisiologis (dan alas an yang bersifat ideologis). Pada abad ke 19 muncul suatu pemahaman asal usul manusia yang dikaitkan dengan primata. Penciptaan manusia pada awal kehidupan dari Ramapithecus-oseopithecus-Australopithecus-Pitecanthropus Erectus-Neandertal-Homo Sapien yang kini dikenal sebagai manusia modern seperti sekarang ini.Dari evolusi awal terciptanya manusia yang rumit inilah ada hubungan historis/sejarah antara manusia dan alam semesta.
Kerumitan yang ada pada persoalan asal usul manusia hamper sama dengan kerumitan asal usul alam semesta. Apalagi jika dihubungkan bahwa evolusi manusia dahulu sampai sekarang sesungguhnya menyangkut perubahan gejala-gejala jagat raya/alam meliputi tingkah laku, unsure, atom, dan elemen.Dari hal itulah terdapat hubungan historis antara manusia dan alam semesta.
Hubungan Fungsional
Proses penciptaan manusia adalah integral dari alam semesta. Dalam sisitem kosmos, manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.Karena memiliki keunggulan dalam system kesadaran, maka alam semesta menjadi obyek yang penting dalam kehidupan manusia.Seiring dengan kemajuan pengetahuan terhadap alam dan teknologi yang diterapkannya, menempatkan alam semesta dalam posisi sebagai sumber kehidupan yang tidak terbatas bagi manusia.Maka wajarlah jika semakin dalam pengetahuan semakin teraasa hubungan antara fungsi manusia dan fungsi alam.
Salah satu teori yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan alam adalah teori anthroposentris yang menyebutkan bahwa manusia menjadi pusat alam. Maksudnya semua yang ada di alam adalah untuk manusia, seperti firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 29:
Artinya : “Dan Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Menurut pandangan Islam, manusia ditempatkan sebagai rahmat bagi alam. Seperti disebutkan dalm Q.S. Al Anbiya ayat 107 :
Artinya : ”Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Pada intinya, alam dan manusia saling bergantung, alam menyediakan segala sesuatu yang manusia butuhkan, dan alam membutuhkan manusia untuk menjaga kelestariannya.Alam diciptakan oleh Allah sebagai objek untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan yang dimiliki manusia agar mereka bisa berkembang dan memakmurkan alam, dan mengetahui tanda-tanda kebesaran penciptanya, yaitu Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar