BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perusahaan selalu berusaha semaksimal mungkin
agar perusahaan dapat memperoleh laba untuk mempertahankan kelangsungan
hidupnya bahkan dapat membuat usahanya lebih maju dan berkembang. Besar
kecilnya laba yang diterima suatu perusahaan merupakan salah satu tolak ukur
sukses tidaknya suatu perusahaan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan untuk mencapai laba yang diharapkan adalah dengan menetapkan harga
jual. Penetapan harga jual merupakan salah satu
jenis pengambilan keputusan manajemen yang penting.
Beberapa perusahaan kemungkinan besar
mengalami masalah dalam penetapan harga
jual. Masalah yang sering terjadi dalam penentuan harga jual adalah jika harga
ditentukan oleh perusahaan terlalu tinggi, maka pembeli akan menghindari
pembelian produk tersebut. Sebaliknya jika harga ditentukan terlalu rendah,
maka biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak tertutupi atau mengalami
kerugian (Garisson, dkk. 2008:530). Hal ini disebabkan karena konsumen
seringkali mempertimbangkan harga dalam membuat keputusan apakah ia akan
membeli suatu produk atau tidak. Walaupun tidak jarang juga kualitas lebih
diunggulkan daripada harga, namun tidak dapat dipungkiri bahwa harga sangat
berperan dalam proses pembuatan keputusan pembelian barang konsumen.
Penetapan harga jual suatu produk tidak
didasarkan pada perkiraan saja akan tetapi dengan menggunakan perhitungan yang
akurat dan teliti. Harga jual harus dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan
dan harus dapat menghasilkan laba yang diinginkan. Oleh sebab itu, biaya sangat
erat hubungannya dengan penentuan harga jual.
Salah satu cara atau metode untuk menentukan
harga jual dengan menggunakan markup. Markup adalah perbedaan
antara harga jual dan biaya produksinya. Markup biasanya dinyatakan
dengan persentase dari biaya. Pendekatan ini disebut cost plus pricing
karena persentase markup yang ditentukan dimuka dikenakan ke basis biaya
untuk menentukan target harga jual. Cost plus pricing adalah metode penentuan
harga jual dengan cara menambahkan laba yang diharapkan di atas biaya penuh
masa yang akan datang untuk memproduksi dan memasarkan produk.(Garisson, dkk. 2008:537)
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti
bermaksud mengadakan penelitian tentang Analisis Cost Plus Pricing dalam penentuan harga jual pada PT.
Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka
dirumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana analisis cost plus pricing dalam
penentuan harga jual pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar?”.
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka
tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui penggunaan analisis Cost Plus Pricing dalam penentuan harga
jual pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.
D. Kegunaan
Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini yaitu
1. Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi
perusahaan dalam menentukan harga jual suatu produk.
2. Penelitian ini dapat memberikan khasanah baru
dalam ilmu pengetahuan dalam penentuan harga jual dengan menggunakan metode cost
plus pricing.
3. Metode analisis cost plus pricing
dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Teori-Teori
yang Terkait Variabel
1. Konsep
Harga Jual
Harga adalah suatu nilai yang dibuat untuk
menjadi patokan nilai suatu barang. Harga
merupakan suatu cara bagi perusahaan untuk membedakan penawarannya dari
pesaing. Harga juga salah satu penentu utama pilihan pembeli.. Menurut L.M. Samryn (2012: 348)
“harga merupakan salah satu jenis informasi penting yang diterima pelanggan
tentang suatu produk”.
Sedangkan Basu Swastha (2005:241) menyatakan harga
merupakan jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Dari sejumlah definisi harga diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa harga merupakan sejumlah uang yang harus dikeluarkan
oleh konsumen sebagai alat ganti atau tukar untuk mendapatkan sejumlah barang
atau manfaat serta pelayanan dari produk atau jasa yang akan didapat oleh
konsumen tersebut. Harga juga dapat dikatakan sebagai penentu nilai suatu
produk atau jasa.
Harga
Jual adalah Setiap produk yang berhasil, menawarkan beberapa manfaat
dan kekuatan untuk memuaskan keinginan konsumen. Pilihan masing-masing individu menentukan besarnya nilai barang dan jasa
tertentu bagi konsumen. Namun untuk memenuhi kebutuhannya, setiap konsumen
dihadapkan pada keterbatasan dalam hal dana. Oleh karena itu, harga yang
merupakan nilai tukar sebuah barang atau jasa menjadi faktor utama yang
menentukan keputusan konsumen untuk membeli. Harga jual adalah sejumlah
kompensasi (uang ataupun barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi barang atau jasa. Perusahaan selalu menetapkan harga produknya dengan
harapan produk tersebut laku terjual dan dapat memberikan laba
yang maksimal.
Perusahaan biasanya berupaya menentukan harga
yang akan memaksimalisasi nilai perusahaan. Harga yang ditentukan untuk sebuah
produk akan mempengaruhi pendapatan perusahaan dan pada akhirnya,
keuntungannya. Mengingat bahwa pendapatan dari penjualan sebuah produk akan
sama dengan harga dikalikan dengan kuantitas penjualan. Meskipun harga yang
lebih rendah akan mengurangi pendapatan per unit yang diterima, biasanya akan
menghasilkan kuantitas penjualan yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi
akan meningkatkan pendapatan per unit yang diterima namun akan menghasilkan
kuantitas unit penjualan yang lebih rendah.
2. Konsep
Biaya
a. Pengertian
Biaya
Hansen
& Mowen (2003: 34) menyatakan bahwa: “Cost is the cash or cash
equivalent value safrifaced for goods and services that is expected
to bring a current or future benefit to the organization”
Menurut
Mulyadi (2001: 8): “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam
satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai
tujuan tertentu”. Dari definisi ini, ada empat unsur pokok dalam biaya,
yaitu:
1)
Biaya
merupakan pengorbanan sumber ekonomi
2)
Diukur
dalam satuan uang
3)
Yang
telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi
4)
Pengorbanan
tersebut untuk memperoleh manfaat saat ini dan/atau mendatang
Dengan
demikian, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dengan satuan
uang, untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan
memberikan manfaat saat ini maupun akan datang. Pengorbanan sumber
ekonomis tersebut bisa merupakan biaya historis dan biaya
masa yang akan datang. Sedangkan dalam arti sempit biaya dapat diartikan
sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau secara tidak
langsung untuk memperoleh penghasilan, disebut dengan harga pokok.
b.
Klasifikasi Biaya
Ada
berbagai cara menggolongkan biaya dalam akuntansi. Penggolongan biaya yang
berbeda dilakukan atas dasar tujuan yang berbeda. Penggolongan tersebut
didasarkan atas prinsip dasar pengelolaan biaya: “Diffrentn costs for
different porposes”. Bahkan ketika istilah biaya produk (product cost)
dipergunakan, maka komponen yang terkandung dalam biaya produk tersebut
tergantung pada tujuan manajerial yang diinginkan.
Penggolongan
biaya dalam praktek tercermin dalam laporan laba rugi perusahaan. Bagaimana
perusahaan menggolongkan biaya-biaya dalam sebuah laporan laba rugi, tergantung
pada tujuan dari pembuatan laporan itu sendiri atau kepada siapa itu ditujukan.
Jika ditujukan kepada pihak eksternal, maka ada ketentuan umum yang
mungkin diatur pula secara khusus menurut Standar Akuntansi Keuangan
tertentu. Namun jika laporan ditujukan kepada manajemen, tidak ada
keharusan untuk mengikuti standar tersebut, melainkan berdasarkan pada prinsip:
“Diffrentn costs for different porposes”. Secara umum, struktur laporan
laba rugi perusahaan jasa mengandung tiga komponen utama, yaitu overhead
cost, biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum http://harlona.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-biaya.html
Mulyadi
(2001: 14-17) mengklasifikasikan biaya dalam lima
cara penggolongan biaya untuk memenuhi berbagai tujuan, yaitu:
1) Penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran.
Penggolongan
biaya menurut objek pengeluaran yang didasarkan nama obyek pengeluaran ini
cocok digunakan dalam organisasi yang masih kecil. Biasanya penggolongan ini
bermanfaat untuk perencanaan perusahaan secara menyeluruh dan pada umumnya
untuk kepentingan penyajian laporan pihak luar (eksternal).
2) Penggolongan biaya atas dasar fungsi pokok dalam perusahaan.
Penggolongan
biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan berarti biaya
digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi di mana biaya tersebut terjadi atau
berhubungan. Adapun fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur adalah
fungsi-fungsi: produksi, administrasi dan umum dan fungsi pemasaran. Oleh
karena itu biaya-biaya dalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi
biaya produksi, biaya administrasi dan umum dan biaya pemasaran.
Biaya produksi
adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku
menjadi produk jadi. Biaya produksi dibagi menjadi 3 elemen : biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja disebut juga dengan prime cost, sedangkan biaya tenaga kerja dan
biaya overhead pabrik disebut juga dengan biaya
konversi (Convertion Cost).
Dapat
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan biaya bahan baku adalah biaya yang
membentuk bagian menyeluruh dari pada produk jadi dan biaya bahan baku adalah
harga pokok bahan baku tersebut diolah dalam proses produksi. Sedangkan biaya
tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diperhitungkan
langsung dalam pembuatan produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah
biaya tenaga kerja yang dapat diidentifikasikan secara langsung terhadap produk
tertentu. Adapun biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi, selain
biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini bisa berupa dari
biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi tak
langsung lainnya. Biaya administrasi dan umum dalam hal ini dimasudkan sebagai
biayabiaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak
diidentifikasikan dengan aktifitas produksi maupun pemasaran. Biaya
administrasi dan umum adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan
penyusunan kebijakan dan pengarahan perusahaan secara keseluruhan. Contoh dari
biaya administrasi dan umum adalah gaji direksi, biaya-biaya sumbangan-
sumbangan, gaji eksekutip, biaya telepon dan lain-lain.
Ada dua macam
perlakuan terhadap biaya administrasi dan umum:
1)
Biaya
administrasi dan umum dialokasikan kepada dua fungsi dalam pemasaran, yaitu
fungsi produksi dan fungsi pemasaran. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya
biaya administrasi dan umum dikeluarkan untuk dua fungsi tersebut.
2)
Memisahkan
biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya ter- sendiri dan
tidak mengalokasikannya ke dalam fungsi produksi dan pemasaran.
Didalam
prakteknya, terdapat kecenderungan untuk mengelompokkan biaya administrasi dan
umum sebagai kelompok biaya sendiri, yang terpisah dari biaya produksi dan
pemasaran. Pengendalian biaya administrasi dan umum dapat lebih mudah
dilakukan, jika biaya tersebut dikelompokkan dan disajikan secara
terpisah.
Biaya pemasaran
adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk
memperoleh pesanan dan memenuhi pesanan. Sehingga untuk memperoleh
pesanan, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk menarik minat pembeli dengan
cara mengadakan promosi penjualan, advertensi dan lain-lain. Sedangkan untuk
memenuhi pesanan perusahaan mengeluarkan biaya-biaya angkut, biaya asuransi dan
lain-lain agar produk perusahaan sampai ketangan pemesan. Biaya pemasaran dan
biaya administrasi umum disebut juga dengan istilah biaya komersial.
3) Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang
dibiayai.
Penggolongan
biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai berkaitan
dengan produk yang dihasilkan. Jika perusahaan mengolah bahan baku menjadi
produk jadi, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa produk, sedangkan jika perusahaan
menghasilkan jasa maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa
tersebut.
Dalam
hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya
yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang
dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tidak ada maka biaya langsung tidak akan
terjadi. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya
disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Perbedaan biaya
langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk sangat
diperlukan apabila perusahaan menghasilkan lebih dari satu jenis produk dan
manajemen menghendaki penentuan harga pokok perjenis produk tersebut jika
perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk saja (seperti perusahaan semen,
perusahaan gula), maka semua jenis biaya produksi merupakan biaya langsung,
sehingga didalam perusahaan tersebut tidak memerlukan adanya biaya tidak
langsung dalam hubungannya dengan produk.
4) Penggolongan biaya sesuai perilaku biaya dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan.
Penggolongan
biaya menurut perilakunya adalah pembagian biaya yang terdiri dari biaya
variabel, biaya semi variabel, dan biaya tetap. Pengertian biaya variabel
adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume
kegiatannya. Sedangkan biaya semi variabel adalah biaya jumlah totalnya tetap
dalam kisaran volume kegiatan tertentu, dan biaya tetap adalah biaya yang
tidak berubah atau tidak ditentukan oleh volume produksi pada periode tertentu.
5) Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya.
Penggolongan
biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya berkaitan dengan pelaporan keuangan.
Misalnya perhitungan laba atau rugi suatu perusahaan dilakukan dengan cara
mempertemukan penghasilan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi tertentu
dengan biaya-biaya yang terjadi didalam periode yang sama. Agar perhitungan
laba atau rugi dan penentuan harga pokok produk dapat dilakukan secara teliti,
maka biaya-biaya dapat digolongkan dalam hubungannya dengan pembebanan kedalam
periode akuntansi tertentu. Atas dasar waktu, biaya dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu: 1) Pengeluaran modal (capital expenditure) dan 2)
Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure).
Pengeluaran
modal adalah biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari satu periode akuntansi.
Pengeluaran modal tidak seluruhnya dibebankan dalam periode akuntansi dimana
pengeluaran tersebut terjadi, tetapi dibagikan kepada periode-periode yang
menikmati manfaat pengeluaran tersebut. Sedangkan pengeluaran penghasilan
adalah biaya-biaya yang hanya bermanfaat didalam periode akuntansi dimana biaya
tesebut terjadi. Contoh dari pengeluaran penghasilan adalah biaya pemeliharaan
mesin, biaya telepon, biaya komisi penjualan
3. Penentuan
Harga Jual
Menurut L.M.
Samryn (2012:347) dalam bukunya Akuntansi Manajemen bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi penetapan harga jual dapat berasal dari luar dan dari perusahaan.
Faktor utama dari luar termasuk pelanngan dan pesaing. Faktor pelanggan menjadi
sangat penting karena merupakan sumber perolehan pendapatan utama bagi sebuah
perusahaan. Faktor lain dari perusahaan, termasuk faktor luar perusahaan yang
harus dipertimbangkan adalah target pasar, tingkat persaingan, heterogenitas
produk, dan elastisitas harga beserta seluruh faktor yang mempengaruhinya.
Faktor non ekonomi seperti peraturan perundang-undangan yang relevan. Faktor-faktor
internal perusahaan yang mempengaruhi kebijakan penetapan harga jual meliputi :
a) Laba yang diinginkan. Dalam kaitannya dengan jumlah laba,
penetapan harga harus mempertimbangkan kecukupan pengembalian modal, kebutuhan
akan laba untuk membayar deviden, dan kebutuhan laba untuk ekspansi dari hasil
penjualan tersebut, serta tren penjualan yang diinginkan.
b) Faktor produk, faktor ini menncakup realistasnya volume
penjualan yang direncakanakan, diskriminasi harga, ketersediaan kapasitas
menganggur, kelaayakan untuk mengenakan tingkat harga yang diinginkan, kaitan
harga dengan daur hidup produk.
c) Faktor biaya, merupakan unsur yang sepnuhnya kuantitatif
dan mudah terukur. Biaya-biaya yang harus diperhitungkan meliputi semua biaya
periodik yang berkaitan dengan kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan
perusahaan.
Ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan harga jual dari suatu barang
atau jasa yang di produksi, yaitu http://www.kompasiana.com/lasmidaraseila/penentuan-harga-jual_563f1c86f77e612609970b17 :
a. Faktor biaya, merupakan dasar dalam menentukan harga jual
produk atau jasa. Biaya dapat langsung diidentifikasikan kepada produk atau
jasa yang dihasilkan karena merupakan faktor yang berasal dari dalam
perusahaan. Biaya dapat memberikan informasi batas bawah suatu harga yang harus
ditentukan oleh perusahaan atas suatu produk atau jasa. Batas bawah harga
tersebut haruslah harga yang dapat menutupi seluruh biaya produksi walaupun
dengan perolehan laba yang minimal.
b. Faktor bukan biaya, merupakan faktor yang berasal dari
luar perusahaan yang dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam menentukan
harga jual produk atau jasa. Faktor ini tidak sepenuhnya dapat dikendalikan
oleh perusahaan karena faktor tersebut merupakan kegiatan yang bersifat timbal
balik antara perusahaan dengan pasar. Berikut ini faktor-faktor tersebut antara
lain:
1) Keadaan perekonomian, perubahan kondisi perekonomian suatu
negara seperti perubahan inflasi dan deflasi dapat mempengaruhi harga suatu
barang atau jasa yang diperjual-belikan di masyarakat.
2) Permintaan dan penawaran pasar, permintaan merupakan
jumlah barang atau jasa yang diinginkan oleh konsumen di pasar pada tingkat
harga beli tertentu, sedangkan penawaran adalah total barang atau jasa yang
ditawarkan oleh produsen di pasar pada tingkat harga jual tertentu. Oleh karena
itu, permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa harus dipertemukan
dengan penawaran pasar sehingga terbentuk suatu harga keseimbangan di mana
harga tersebut merupakan harga jual yang diinginkan perusahaan dan juga
merupakan harga yang sesuai dengan permintaan konsumen.
3) Elastisitas permintaan, elastisitas permintaan adalah
kepekaan perubahan permintaan akan barang atau jasa terhadap perubahan harga.
Elastisitas ini membantu manajer untuk memahami apakah suatu bentuk permintaan
itu elastis atau inelastis. Elastis berarti perubahan sekian persen pada harga
menyebabkan perubahan persentase permintaan yang lebih besar, sedangkan
inelastis berarti perubahan sekian persen pada harga secara relatif sedikit
mengubah persentase permintaan.
4) Tipe pasar, ada empat jenis struktur pasar yaitu pasar
persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli, dan monopoli.
Pasar-pasar ini memiliki perbedaan dalam jumlah pembeli dan penjual, tingkat
keunikan produk atau jasa yang dihasilkan, seberapa besar rintangan untuk
memasuki pasar, dan biaya khusus yang harus dikeluarkan.
5) Pengawasan pemerintah pengawasan pemerintah biasanya
dilakukan untuk mengontrol besaran harga barang atau jasa yang beredar
dimasyarakat agar tetap sesuai dengan keinginan perusahaan dan kemampuan
masyarakat. Citra atau kesan masyarakat, semakin tinggi citra suatu produk di
masyarakat akan menyebabkan produsen menetapkan harga jual yang tinggi.
6) Tanggung jawab sosial perusahaan, penentuan harga jual
barang atau jasa suatu perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh rasa tanggung
jawab perusahaan terhadap masyarakat. Hal ini dikarenakan tujuan didirikannya
perusahaan bukan hanya untuk mencari laba tetapi juga untuk melayani atau
memenuhi kebutuhan masyarakat.
7) Tujuan non laba (nirlaba), pada organisasi non laba
(nirlaba), laba bukan merupakan tujuan utama berdirinya organisasi tersebut
tetapi bertujuan untuk melayani masyarakat agar tingkat kehidupannya lebih
sejahtera. Pada umumnya produk yang dihasilkan oleh perusahaan non laba berupa
jasa yang harga jual produknya ditentukan sama dengan total biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk tersebut.
Menurut
Kotler dan Keller (2009:157), dalam keputusan penetapan harga sebuah perusahaan
dipengaruhi baik dari faktor internal maupun dari faktor eksternal, yaitu :
a. Faktor
Internal Perusahaan
1) Tujuan Pemasaran Perusahaan
Semakin jelas tujuan suatu perusahaan, semakin mudah pula
perusahaan tersebut dalam menetapkan harganya. Tujuan tersebut dapat berupa
maksimalisasi keuntungan masa sekarang, untuk kelangsungan hidup perusahaan,
meraih pangsa pasar yang besar, dan meraih kepemimpinan dalam hal kualitas
produk, dan lain-lain.
2) Strategi Bauran Pemasaran
Harga merupakan salah satu alat bauran pemasaran yang
digunakan perusahaan dalam mencapai tujuan pemasarannya. Perusahaan juga
seringkali menempatkan produk mereka melalui harga, dimana harga dalam hal ini
menjadi factor ysng menentukan pasaran produk, persaingan, dan rancangan
produk.
3) Biaya
Biaya menjadi dasar harga yang dapat ditetapkan perusahaan terhadap produknya agar tidak mengalami kerugian.
Biaya menjadi dasar harga yang dapat ditetapkan perusahaan terhadap produknya agar tidak mengalami kerugian.
4) Pertimbangan Organisasi
Perusahaan-perusahaan menetapkan harga dengan berbagai
cara. Dalam perusahaan kecil, harga seringkali ditetapkan oleh manajemenn
puncak, dan bukan oleh departemen pemasaran atau penjualan. Dalam perusahaan
besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer-manajer divisi ataupun
lini produk.
b. Faktor
Eksternal Perusahaan
1) Pasar dan Permintaan
Sebelum menetapkan harga, seorang pemasar harus memahami
hubungan antara harga dengan pasar dan permintaan atas produknya. Apakah pasar
tersebut termasuk ke dalam pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik,
oligopolistik, maupun monopoli murni.
2) Persaingan
Kebebasan perusahaan dalam menentukan harga itu bergantung pada jenis pasar yang berbeda-beda.
Kebebasan perusahaan dalam menentukan harga itu bergantung pada jenis pasar yang berbeda-beda.
c.
Faktor Eksternal Lainnya
Ketika
menetapkan harga, perusahaan juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain di
luar perusahaan. Keadaan ekonomi dapat mempengaruhi penetapan harga.
Faktor-faktor ekonomi sepeti inflasi, atau tingkat bunga dapat mempengaruhi
keputusan penetapan harga, karena dapat mempengaruhi baik biaya produksi maupun
persepsi konsumen terhadap harga dan nilai produk
4. Tujuan
Penetapan Harga Jual
Sebelum
memutuskan untuk menetapkan suatu harga tertentu perusahaan harus
menentukan apa yang ingin dicapainya dengan penetapan harga tersebut. Mulyadi (2001:78) menyatakan bahwa
pada prinsipnya harga jual harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan
laba yang wajar. Kotler dan Keller (2009:138) menyatakan bahwa tujuan penetapan
harga, yaitu:
a) Kelangsungan hidup
Perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai
tujuan utamanya. Dalam menetapkan harga perusahaan hanya berprinsip selama
harga dapat menutupi biaya variabel dan biaya tetap, maka perusahaan dapat
terus berjalan.
b) Laba sekarang maksimum
Banyak perusahaan yang mencoba untuk menetapkan harga
yang akan memaksimalkan laba sekarang. Mereka memperkirakan permintaan dan
biaya yang berkaitan dengan alternatif harga dan memilih harga yang akan
manghasilkan laba sekarang atau pengembalian maksimum.
c) Pendapatan sekarang maksimum
Perusahaan menetapkan harga yang akan memaksimalkan
pendapatan penjualan. Maksimasi pendapatan hanya membutuhkan perkiraan fungsi
permintaan. Banyak manajer percaya bahwa maksimasi pendapatan akan
menghasilkan maksimasi laba jangka dan pertumbuhan pangsa pasar.
d) Pertumbuhan Penjualan Maksimum
Perusahaan ingin memaksimalkan unit penjualan. Dengan
penjualan yang lebih tinggi diharapkan biaya per-unit yang lebih rendah
dan laba jangka panjang yang lebih tinggi. Perusahaan menetapkan harga terendah
dengan konsumsi bahwa pasar peka terhadap harga.
e) Skiming Pasar Maksimum
Perusahaan menetapkan harga tinggi untuk men-skim pasar
perusahan menetapkan harga yang layak bagi beberapa segmen pasar untuk meerima
produk tersebut dengan cara ini perusahaan akan memperoleh pendapatan maksimum
dari berbagai segmen pasar. Skiming pasar hanya mungkin dalam kondisi-kondisi
berikut:
i.
Sejumlah
pembeli yang memadai memiliki permintaan sekarang yang tinggi.
ii.
Biaya perunit
untuk memproduksi volume kecil tidak demikian tinggi sehingga dapat menghilangkan
keuntungan dari penetapan harga maksimal yang dapat diserap pasar.
iii.
Harga yang
tinggi menyatakan citra produk unggul.
f) Kepemimpinan Kualitas Produk
Perusahaan mungkin mengaharapkan untuk menjadi pemimpin
dalam kualitas produk di pasar. Perusahaan memproduksi produk yang bermutu
tinggi dan menetapkan harga yang lebih tinggi.
g) Tujuan Penetapan Harga Lainnya
Organisasi non laba mungkin mengikuti sejumlah
tujuan penetapan harga lainnya misalnya rumah sakit mungkin memperoleh
pengembalian sepenuhnya dalam penetapan harga.
5. Metode
Penentuan Harga Jual
Menurut
Mulyadi (2001:348) empat metode penentuan harga jual yaitu penetuan harga jual
dalam keadaan normal (cost plus pricing), penentuan harga jual dalam cost
type contract, dan penentuan harga jual pesanan khusus, penentuan harga
jual atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang diatur dengan peraturan
pemerintah.
Menurut L.M
Samryn (2012:350), penetapan harga pokok produk untuk penetapan harga
memerlukan empat langkah sebagai berikut :
a. Memutuskan kategori biaya fungsi bisnis mana yang harus
di masukkan dalam komponen harga produk.
b. Menghitung biaya produksi langsung untuk tiap kategori
biaya relevan
c. Menghitung biaya-biaya, produksi tidak langsung dari tiap
kategori biaya relevan.
d. Menghitung total harga pokok produk dengan menjumlah
biaya-biaya produksi langsung
e. Penetapan harga pokok dapat dilakukan dengan pendekatan full
costing dan variabel costing.
Menurut Morray. J, dkk (2014) Ada tiga metode
yang dapat diambil oleh pihak manajemen dalam perencanaan dan pengambilan
keputusan dalam menentukan harga jual, yaitu dengan metode cost plus pricing
menggunakan pendekatan full costing, variable costing, metode markup
pricing dan metode penenentuan harga oleh produsen.
Swastha Basu (2005:154)
menyatakan bahwa metode penentuan harga jual yang berdasarkan biaya dalam
bentuk yang paling sederhana, yaitu :
a.
Cost plus pricing method
Penentuan
harga jual cost plus pricing, biaya yang digunakan sebagai dasar
penentuan, dapat didefinisikan sesuai dengan metode penentuan harga pokok
produk yang digunakan. Dalam menghitung cost plus pricing, digunakan rumus :
Harga jual = Biaya total + Margin
b.
Markup pricing method
Markup pricing
banyak digunakan oleh para pedagang. Para pedagang akan
menentukan harga jualnya dengan cara menambahkan markup yang diinginkan
pada harga beli per satuan. Persentase yang ditetapkan berbeda untuk setiap
jenis barang. Dalam menghitung harga jual, menggunakan rumus : Harga jual =
Harga beli + Markup
c.
Penentuan
harga oleh produsen
Dalam metode
ini, harga yang ditetapkan oleh perusahaan adalah awal dari rangkaian harga
yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam saluran ditribusi. Karena
itu, penetapan harga oleh produsen memegang peranan penting dalam menentukan
harga akhir barang. Dalam menetapkan harga jualnya, produsen dapat berorientasi
pada biaya. Proses penetapan harga dimulai dengan menghitung biaya per unit
barang yang dihasilkan, kemudian menambahkan sejumlah markup tertentu.
Produsen menggunakan rumus yang mereka anggap cocok bagi mereka, tentunya
berdasarkan pengamatan atas produk yang dihasilkannya. Setiap produk mempunyai
pola biaya yang berbeda satu sama lainnya.
6.
Metode Cost Plus Pricing
Menurut
Mulyadi (2001:346) metode penentuan harga jual normal seringkali disebut dengan
istilah cost-plus pricing, karena harga jual ditentukan dengan menambah
biaya masa yang akan dating dengan suatu persentase markup (tambahan di
atas jumlah biaya) yang dihitung dengan formula tertentu. Cost plus pricing
adalah penentuan harga jual dengan cara dengan cara menambahkan laba yang
diharapkan di atas biaya penuh masa yang akan datang untuk memproduksi dan
memasarkan produk.
Garrison dkk (2008:125) menyatakan bahwa cost
plus pricing adalah proses penentuan harga jual dengan cara menghitung
biaya produksi perunit, memutuskan berapa laba yang diinginkan , kemudian
menentukan harga jual.
Dalam metode ini, penjual atau produsen
menetapkan harga jual untuk satu unit barang yang besarnya sama dengan jumlah
biaya per unit ditambah dengan suatu jumlah untuk menutup laba yang diinginkan
(disebut marjin) pada unit tersebut. Dalam pengertian yang lebih ringkas bisa
dikatakan bahwa cost-plus pricing method adalah metode penetapan harga
jual produk dengan cara menambahkan biaya total produksi dengan nilai
marjinnya.
Adapun formula dari metode cost-plus pricing
method adalah sebagai berikut:
Harga Jual =
Taksiran Biaya Penuh + Laba Yang Diharapkan
|
Menurut
Mulyadi (2001:349) taksiran biaya
penuh dapat dapat dihitung dengan dua pendekatan yaitu pendekatan full
costing dan variabel costing. Dalam pendekatan full costing,
taksiran biaya penuh yang dipakai sebagai dasar penentuan harga jual terdiri
dari unsur-unsur seperti di bawah ini :
Biaya bahan baku xxx
Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik (variabel + tetap) xxx
Taksiran total biaya produksi xxx
Biaya administrasi dan umum xxx
Biaya pemasaran xxx
Taksiran biaya komersial xxx
Taksiran biaya
penuh xxx
Dalam pendekatan variabel
costing, taksiran biaya penuh yang dipakai sebagai sebagai dasar penentuan
harga jual terdiri dari unsur-unsur dibawah ini.
Biaya variabel
Biaya bahan baku xxx
Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik variabel xxx
Taksiran total biaya produksi
variabel xxx
Biaya administrasi dan umum
variabel xxx
Biaya pemasaran variabel xxx
Taksiran total biaya variabel xxx
Biaya tetap
Biaya overhead pabrik tetap xxx
Biaya administrasi dan umum tetap xxx
Biaya pemasaran tetap xxx
Taksiran total biaya tetap xxx
Taksiran biaya penuh xxx
Jika
biaya dipakai sebagai dasar penentuan harga jual, baik dalam pendekatan full
costing maupun variabel costing, biaya penuh masa yang akan datang akan dibagi
menjadi dua yaitu biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh volume produk dan
biaya penuh yang tidak dipengaruhi oleh volume produk. Dalam penentuan harga
jual, taksiran biaya penuh yang secara langsung berhubungan dengan volume
produk dipakai sebagai dasar penentuan harga jual, sedangkan taksiran biaya
penuh yang tidak dipengaruhi oleh volume produk ditambahkan kepada laba yang
diharapkan untuk kepentingan perhitungan markup. (Mulyadi, 2001: 351)
Menurut
Mulyadi (2001:351) perhitungan harga jual atas atas dasar biaya secara umum
dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Harga jual per unit
|
=
|
biaya yang berhubungan langsung
dengan volume (per unit)
|
+
|
Persentase markup
|
Menurut
Mulyadi (2001:351) persentase markup dihitung dengan rumus :
Persentase Markup
|
=
|
Laba yang diharapkan
|
+
|
Biaya yang tidak langsung oleh
volume produk
|
Biaya yang diperlukan langsung
oleh volume produksi
|
||||
B. Penelitian
Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang
terkait dengan penentuan harga jual produk dengan menggunakan analisis cost
plus pricing yaitu :
1. IRVANA MARINA KONDOY, VENTJE ILAT,
WINSTON PONTOH (2015) dengan
judul Penerapan Cost Plus Pricing Dalam Keputusan Penetapan Harga Jual
Untuk Pesanan Khusus Pada UD. Dewa Bakery Manado. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa dengan menggunakan metode cost plus pricing, perusahaan menetapkan
harga jual normal per unit roti dengan harga Rp.3150, ketika perusahaan
mendapat 2.000 pesanan khusus dengan harga Rp. 2.700 per unit, bila dianalisis
dengan metode cost plus pricing perusahaan masih mendapat keuntungan sebesar Rp
800.000,-
2.
REFTI
YUNINGSIH (2015) dengan judul Analisis
Perhitungan Metode Cost Plus Pricing Dalam Menentukan Harga Jual Produk
Pada PT.Wonojati Wijoyo Kediri. Hasil yang diperoleh di dalam penelitian
menggunakan metode cost plus pricing menunjukkan bahwa harga jual produk
meja terdapat selisih antara perhitungan perusahaan dengan perhitungan menggunakan metode Cost Plus Pricing yang
memperhitungkan biaya produksi dan biaya non produksi. Seperti di tahun 2013
perhitungan dengan menggunakan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp
5.065.940,73. Sedangkan perusahaan menentukan harga jual tanpa menggunakan
metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp 4.875.000. Sehingga ada
selisih antara perhitungan metode cost plus pricing dengan perhitungan
perusahaan sebesar Rp 190.940,73.
3.
WORO
PRIHASTUTI (2013) dengan judul
Perbandingan Hasil Perhitungan Tarif Jasa Kamar Rawat Inap Berdasarkan Metode Cost
Plus Pricing Melalui Pendekatan Full Costing Periode 2012 (Studi
Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakartadan RSUD Kota Yogyakarta). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa metode yang diterapkan RSU PKU Muhammadiyah
Yogyakarta dan RSUD Kota Yogyakarta untuk menentukan tarif kamar rawat inap
adalah metode unit cost. Sedangkan perhitungan tarif jasa kamar rawat
inap dengan menggunakan metode cost plus pricing melalui pendekatan full
costing pada RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk kelas VIP sebesar
Rp313.399,00, kelas I sebesar Rp 235.702,00, kelas II sebesar Rp176.095,00,
kelas III sebesar Rp116.129.,00. Sedangkan tarif jasa kamar rawat inap pada
RSUD Kota Yogyakarta untuk kelas VIP sebesar Rp127.111,00, kelas I sebesar
Rp77.972,00, kelas II sebesar Rp 60.104,00, kelas III sebesar Rp57.342,00.
C. Kerangka
Pikir
Berdasarkan kajian teori di atas, maka dapat
dibuat kerangka pikir sebagai berikut :
HARGA JUAL
|
COST PLUS PRICING
|
BIAYA TOTAL
|
MARKUP
|
Gambar 2.1
Kerangka Pikir
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Tempat dan waktu Penelitian
1. Penelitian ini akan dilakukan di PT.
Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar yang terletak di Kawasan Industri Makassar (KIMA) Jl. Kima X, Kav. A No. 2B, Kel.
Daya, Kec. Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan 90241.
2. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari –
April 2017.
B.
Jenis dan Sumber data
1.
Jenis
Data
Untuk mendukung
penelitian, maka jenis data yang dibutuhkan adalah data kuantitatif.
2.
Sumber
Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a) Data Primer, berupa laporan
keuangan dari PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.
b) Data Sekunder, berupa dokumen
perusahaan atau yang berhubungan dengan perusahaan dan literatur serta artikel
yang relevan dengan objek penelitian
C.
Metode Analisis Data
Metode analisis dalam pelitian ini
adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan perhitungan cost plus
pricing dengan pendekatan metode full
costing sebagai berikut :
1.
Biaya Produksi
= BBB
+ BTKL + BOP
2.
Biaya Total
= Biaya Produksi + Biaya Pemasaran + Biaya Adm & Umum
3.
Biaya per Unit
= Jumlah Biaya Total / Volume Produksi
4.
Laba yang dikehendaki
= % Laba yang dikehendaki x Jumlah aktiva yang digunakan
5.
Persentase Markup
= Laba yang dikehendaki / jumlah biaya total x 100%
6.
Markup per Unit
= Persentase markup x biaya per unit
7.
Harga Jual per Unit
= Biaya per unit + Markup per unit
D.
Definisi Operasional variabel
1.
Harga
jual adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu
barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan
2.
Cost
plus pricing adalah metode penentuan
harga jual dengan menggunakan cara menambahkan laba yang diharapkan di atas
biaya penuh
DAFTAR
PUSTAKA
Garrison,
Noreen dan Brewer. 2008. Akuntansi Manajerial, Edisi 14. Jakarta :
Salemba Empat
Irvana
Marina Kondoy, Ventje Ilat, Winston Pontoh, 2015. Penerapan Cost Plus
Pricing Dalam Keputusan Penetapan Harga Jual Untuk Pesanan Khusus Pada UD. Dewa
Bakery Manado. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 15 No. 03 Tahun 2015.
Jurusan Ekonomi Pembangunan – FEB Universitas Sam Ratulangi Manado
Jessica
C. Moray, D.P.E. Saerang., T. Runtu. 2014. Penetapan Harga Jual Dengan Cost
Plus Pricing Menggunakan Pendekatan Full Costing Pada UD Gladys Bakery. Jurnal
EMBA Vol.2 No.2 Juni 2014, Hal. 1272-1283
Kotller,
Philip and Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi 13 Jilid
2. Jakarta : Erlangga
L.M. Samryn,
2012. Akuntansi Manajemen. Informasi Biaya untuk Mengendalikan
Aktivitas Operasi dan Informasi. Edisi Pertama. Jakarta Kencana Prenada
Media Group.
Mulyadi.
2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Edisi Ketiga.
Jakarta : Salemba Empat
Nova Pungki. 2015. Penentuan Harga Jual. http://novapungki.blogspot.co.id/2015/04/penentuan-harga-jual.html di akses tanggal 28 September 2016
Refti
Yuningsih, 2015. Analisis Perhitungan Metode Cost Plus Pricing Dalam
Menentukan Harga Jual Produk Pada PT.Wonojati Wijoyo Kediri. Artikel
Skripsi Universitas Nusantara PGRI Kediri
Restu Alpiansyah, 2016. Target Costing and Cost Plus
Pricing. https://restualpiansah.wordpress.com/2016/03/12/target-costing-and-cost-plus-pricing/ di akses tanggal 28 September 2016
Swastha
Basu. 2005. Manajemen Penjualan, Edisi 2. Yogyakarta : BPFE
Woro
Prihastuti, 2013. Perbandingan Hasil Perhitungan Tarif Jasa Kamar Rawat Inap
Berdasarkan Metode Cost Plus Pricing Melalui Pendekatan Full Costing Periode
2012 (Studi Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta Dan RSUD Kota Yogyakarta).Skripsi
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta
http://www.kompasiana.com/lasmidaraseila/penentuan-harga-jual_563f1c86f77e612609970b17 di akses tanggal 28 September 2016
http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-penetapan-harga-kebijakan.html di akses tanggal 28 September 2016
http://bahanpustakaula.blogspot.co.id/2013/10/metode-dasar-penentuan-harga.html di akses tanggal 28 September 2016