Kamis, 20 Oktober 2016

Proposal Analisis Cost Plus Pricing dalam Penentuan Harga Jual Produk Pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk. Cabang Makassar



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perusahaan selalu berusaha semaksimal mungkin agar perusahaan dapat memperoleh laba untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya bahkan dapat membuat usahanya lebih maju dan berkembang. Besar kecilnya laba yang diterima suatu perusahaan merupakan salah satu tolak ukur sukses tidaknya suatu perusahaan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mencapai laba yang diharapkan adalah dengan menetapkan harga jual. Penetapan harga jual merupakan salah satu jenis pengambilan keputusan manajemen yang penting.
Beberapa perusahaan kemungkinan besar mengalami masalah dalam  penetapan harga jual. Masalah yang sering terjadi dalam penentuan harga jual adalah jika harga ditentukan oleh perusahaan terlalu tinggi, maka pembeli akan menghindari pembelian produk tersebut. Sebaliknya jika harga ditentukan terlalu rendah, maka biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak tertutupi atau mengalami kerugian (Garisson, dkk. 2008:530). Hal ini disebabkan karena konsumen seringkali mempertimbangkan harga dalam membuat keputusan apakah ia akan membeli suatu produk atau tidak. Walaupun tidak jarang juga kualitas lebih diunggulkan daripada harga, namun tidak dapat dipungkiri bahwa harga sangat berperan dalam proses pembuatan keputusan pembelian barang konsumen.
Penetapan harga jual suatu produk tidak didasarkan pada perkiraan saja akan tetapi dengan menggunakan perhitungan yang akurat dan teliti. Harga jual harus dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan dan harus dapat menghasilkan laba yang diinginkan. Oleh sebab itu, biaya sangat erat hubungannya dengan penentuan harga jual.
Salah satu cara atau metode untuk menentukan harga jual dengan menggunakan markup. Markup adalah perbedaan antara harga jual dan biaya produksinya. Markup biasanya dinyatakan dengan persentase dari biaya. Pendekatan ini disebut cost plus pricing karena persentase markup yang ditentukan dimuka dikenakan ke basis biaya untuk menentukan target harga jual. Cost plus pricing adalah metode penentuan harga jual dengan cara menambahkan laba yang diharapkan di atas biaya penuh masa yang akan datang untuk memproduksi dan memasarkan produk.(Garisson, dkk. 2008:537)
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud mengadakan penelitian tentang Analisis Cost Plus Pricing dalam penentuan harga jual pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana analisis cost plus pricing dalam penentuan harga jual pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar?”.

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengetahui penggunaan analisis Cost Plus Pricing dalam penentuan harga jual pada PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.
D.    Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini yaitu
1.      Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi perusahaan dalam menentukan harga jual suatu produk.
2.      Penelitian ini dapat memberikan khasanah baru dalam ilmu pengetahuan dalam penentuan harga jual dengan menggunakan metode cost plus pricing.
3.      Metode analisis cost plus pricing dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Teori-Teori yang Terkait Variabel
1.      Konsep Harga Jual
Harga adalah suatu nilai yang dibuat untuk menjadi patokan nilai suatu barang. Harga merupakan suatu cara bagi perusahaan untuk membedakan penawarannya dari pesaing. Harga juga salah satu penentu utama pilihan pembeli.. Menurut L.M. Samryn (2012: 348) “harga merupakan salah satu jenis informasi penting yang diterima pelanggan tentang suatu produk”.
Sedangkan Basu Swastha (2005:241) menyatakan harga merupakan jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Dari sejumlah definisi harga diatas dapat diambil kesimpulan bahwa harga merupakan sejumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen sebagai alat ganti atau tukar untuk mendapatkan sejumlah barang atau manfaat serta pelayanan dari produk atau jasa yang akan didapat oleh konsumen tersebut. Harga juga dapat dikatakan sebagai penentu nilai suatu produk atau jasa.
Harga Jual adalah Setiap produk yang berhasil, menawarkan beberapa manfaat dan kekuatan untuk memuaskan keinginan konsumen. Pilihan masing-masing individu menentukan besarnya nilai barang dan jasa tertentu bagi konsumen. Namun untuk memenuhi kebutuhannya, setiap konsumen dihadapkan pada keterbatasan dalam hal dana. Oleh karena itu, harga yang merupakan nilai tukar sebuah barang atau jasa menjadi faktor utama yang menentukan keputusan konsumen untuk membeli. Harga jual adalah sejumlah kompensasi (uang ataupun barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa. Perusahaan selalu menetapkan harga produknya dengan harapan produk tersebut laku    terjual dan dapat memberikan laba yang maksimal.
Perusahaan biasanya berupaya menentukan harga yang akan memaksimalisasi nilai perusahaan. Harga yang ditentukan untuk sebuah produk akan mempengaruhi pendapatan perusahaan dan pada akhirnya, keuntungannya. Mengingat bahwa pendapatan dari penjualan sebuah produk akan sama dengan harga dikalikan dengan kuantitas penjualan. Meskipun harga yang lebih rendah akan mengurangi pendapatan per unit yang diterima, biasanya akan menghasilkan kuantitas penjualan yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi akan meningkatkan pendapatan per unit yang diterima namun akan menghasilkan kuantitas unit penjualan yang lebih rendah.
2.      Konsep Biaya
a.      Pengertian Biaya
Hansen & Mowen (2003: 34) menyatakan bahwa: “Cost is the cash or cash equivalent value safrifaced  for goods and services that is expected to  bring a current or future benefit to the organization
Menurut Mulyadi (2001: 8): “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”.  Dari definisi ini, ada empat unsur pokok dalam biaya, yaitu:
1)      Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi 
2)      Diukur dalam satuan uang
3)      Yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi 
4)      Pengorbanan tersebut untuk memperoleh manfaat  saat ini dan/atau mendatang
Dengan demikian, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dengan satuan uang,  untuk memperoleh barang atau jasa  yang diharapkan memberikan  manfaat saat ini maupun akan datang. Pengorbanan sumber ekonomis tersebut bisa  merupakan biaya historis  dan  biaya masa yang akan datang. Sedangkan dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau secara tidak langsung untuk memperoleh penghasilan, disebut dengan harga pokok.
b.      Klasifikasi Biaya
Ada berbagai cara menggolongkan biaya dalam akuntansi. Penggolongan biaya yang berbeda dilakukan atas dasar tujuan yang berbeda. Penggolongan tersebut didasarkan atas prinsip dasar pengelolaan biaya: “Diffrentn costs for different porposes”. Bahkan ketika istilah biaya produk (product cost) dipergunakan, maka komponen yang terkandung dalam  biaya produk tersebut tergantung pada tujuan manajerial yang diinginkan.
Penggolongan biaya dalam praktek tercermin dalam laporan laba rugi perusahaan. Bagaimana perusahaan menggolongkan biaya-biaya dalam sebuah laporan laba rugi, tergantung pada tujuan dari pembuatan laporan itu sendiri atau kepada siapa itu ditujukan. Jika ditujukan kepada pihak eksternal, maka ada ketentuan umum yang   mungkin diatur pula secara khusus menurut Standar Akuntansi Keuangan tertentu.  Namun jika laporan ditujukan kepada manajemen, tidak ada keharusan untuk mengikuti standar tersebut, melainkan berdasarkan pada prinsip: “Diffrentn costs for different porposes”. Secara umum, struktur laporan laba rugi  perusahaan jasa mengandung tiga komponen utama, yaitu overhead cost, biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum http://harlona.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-biaya.html
Mulyadi (2001: 14-17)  mengklasifikasikan  biaya  dalam   lima cara penggolongan biaya untuk memenuhi berbagai tujuan, yaitu:
1)      Penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran.
Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran yang didasarkan nama obyek pengeluaran ini cocok digunakan dalam organisasi yang masih kecil. Biasanya penggolongan ini bermanfaat untuk perencanaan perusahaan secara menyeluruh dan pada umumnya untuk kepentingan penyajian laporan pihak luar (eksternal).
2)      Penggolongan biaya atas dasar fungsi pokok dalam perusahaan.
Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan berarti  biaya  digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi di mana biaya tersebut terjadi atau berhubungan. Adapun fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur adalah fungsi-fungsi: produksi, administrasi dan umum dan fungsi pemasaran. Oleh karena itu biaya-biaya dalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi biaya produksi, biaya administrasi dan umum dan biaya pemasaran. 
Biaya produksi adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi dibagi menjadi 3 elemen : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut juga dengan prime cost, sedangkan biaya tenaga kerja dan biaya  overhead  pabrik  disebut  juga dengan biaya konversi (Convertion Cost).
Dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan biaya bahan baku adalah biaya yang membentuk bagian menyeluruh dari pada produk jadi dan biaya bahan baku adalah harga pokok bahan baku tersebut diolah dalam proses produksi. Sedangkan biaya tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diperhitungkan langsung dalam pembuatan produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat diidentifikasikan secara langsung terhadap produk tertentu. Adapun biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi, selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini bisa berupa dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya. Biaya administrasi dan umum dalam hal ini dimasudkan sebagai biayabiaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak diidentifikasikan dengan aktifitas produksi maupun pemasaran. Biaya administrasi dan umum adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan penyusunan kebijakan dan pengarahan perusahaan secara keseluruhan. Contoh dari biaya administrasi dan umum adalah gaji direksi, biaya-biaya sumbangan- sumbangan, gaji eksekutip, biaya telepon dan lain-lain.
Ada dua macam perlakuan terhadap biaya administrasi dan umum:
1)         Biaya administrasi dan umum dialokasikan kepada dua fungsi dalam pemasaran, yaitu fungsi produksi dan fungsi pemasaran. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya biaya administrasi dan umum dikeluarkan untuk dua fungsi tersebut.
2)         Memisahkan biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya   ter- sendiri dan tidak mengalokasikannya ke dalam fungsi produksi dan pemasaran.
Didalam prakteknya, terdapat kecenderungan untuk mengelompokkan biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya sendiri, yang terpisah dari biaya produksi dan pemasaran. Pengendalian biaya administrasi dan umum dapat lebih mudah dilakukan, jika biaya tersebut dikelompokkan dan disajikan secara terpisah. 
Biaya pemasaran adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk memperoleh pesanan  dan memenuhi pesanan. Sehingga untuk memperoleh pesanan, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk menarik minat pembeli dengan cara mengadakan promosi penjualan, advertensi dan lain-lain. Sedangkan untuk memenuhi pesanan perusahaan mengeluarkan biaya-biaya angkut, biaya asuransi dan lain-lain agar produk perusahaan sampai ketangan pemesan. Biaya pemasaran dan biaya administrasi umum disebut juga dengan istilah biaya komersial.
3)      Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai  berkaitan dengan produk yang dihasilkan. Jika perusahaan mengolah bahan baku menjadi produk jadi, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa produk, sedangkan jika perusahaan menghasilkan jasa maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa tersebut. 
Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tidak ada maka biaya langsung tidak akan terjadi. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Perbedaan biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk sangat diperlukan apabila perusahaan menghasilkan lebih dari satu jenis produk dan manajemen menghendaki penentuan harga pokok perjenis produk tersebut jika perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk saja (seperti perusahaan semen, perusahaan gula), maka semua jenis biaya produksi merupakan biaya langsung, sehingga didalam perusahaan tersebut tidak memerlukan adanya biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk.
4)      Penggolongan biaya sesuai perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
Penggolongan biaya menurut perilakunya adalah pembagian biaya yang terdiri dari  biaya variabel, biaya semi variabel, dan biaya tetap. Pengertian biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatannya. Sedangkan biaya semi variabel adalah biaya jumlah totalnya tetap dalam kisaran  volume kegiatan tertentu, dan biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah atau tidak ditentukan oleh volume produksi pada periode tertentu.
5)      Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya.
Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya berkaitan dengan pelaporan keuangan. Misalnya perhitungan laba atau rugi suatu perusahaan dilakukan dengan cara mempertemukan penghasilan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi tertentu dengan biaya-biaya yang terjadi didalam periode yang sama. Agar perhitungan laba atau rugi dan penentuan harga pokok produk dapat dilakukan secara teliti, maka biaya-biaya dapat digolongkan dalam hubungannya dengan pembebanan kedalam periode akuntansi tertentu. Atas dasar waktu, biaya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1) Pengeluaran modal (capital expenditure) dan 2) Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure).
Pengeluaran modal adalah biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal tidak seluruhnya dibebankan dalam periode akuntansi dimana pengeluaran tersebut terjadi, tetapi dibagikan kepada periode-periode yang menikmati manfaat pengeluaran tersebut. Sedangkan pengeluaran penghasilan adalah biaya-biaya yang hanya bermanfaat didalam periode akuntansi dimana biaya tesebut terjadi. Contoh dari pengeluaran penghasilan adalah biaya pemeliharaan mesin, biaya telepon, biaya komisi penjualan
3.      Penentuan Harga Jual
Menurut L.M. Samryn (2012:347) dalam bukunya Akuntansi Manajemen bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga jual dapat berasal dari luar dan dari perusahaan. Faktor utama dari luar termasuk pelanngan dan pesaing. Faktor pelanggan menjadi sangat penting karena merupakan sumber perolehan pendapatan utama bagi sebuah perusahaan. Faktor lain dari perusahaan, termasuk faktor luar perusahaan yang harus dipertimbangkan adalah target pasar, tingkat persaingan, heterogenitas produk, dan elastisitas harga beserta seluruh faktor yang mempengaruhinya. Faktor non ekonomi seperti peraturan perundang-undangan yang relevan. Faktor-faktor internal perusahaan yang mempengaruhi kebijakan penetapan harga jual meliputi :
a)      Laba yang diinginkan. Dalam kaitannya dengan jumlah laba, penetapan harga harus mempertimbangkan kecukupan pengembalian modal, kebutuhan akan laba untuk membayar deviden, dan kebutuhan laba untuk ekspansi dari hasil penjualan tersebut, serta tren penjualan yang diinginkan.
b)      Faktor produk, faktor ini menncakup realistasnya volume penjualan yang direncakanakan, diskriminasi harga, ketersediaan kapasitas menganggur, kelaayakan untuk mengenakan tingkat harga yang diinginkan, kaitan harga dengan daur hidup produk.
c)      Faktor biaya, merupakan unsur yang sepnuhnya kuantitatif dan mudah terukur. Biaya-biaya yang harus diperhitungkan meliputi semua biaya periodik yang berkaitan dengan kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan perusahaan.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan harga jual dari suatu barang atau jasa yang di produksi, yaitu http://www.kompasiana.com/lasmidaraseila/penentuan-harga-jual_563f1c86f77e612609970b17 :
a.       Faktor biaya, merupakan dasar dalam menentukan harga jual produk atau jasa. Biaya dapat langsung diidentifikasikan kepada produk atau jasa yang dihasilkan karena merupakan faktor yang berasal dari dalam perusahaan. Biaya dapat memberikan informasi batas bawah suatu harga yang harus ditentukan oleh perusahaan atas suatu produk atau jasa. Batas bawah harga tersebut haruslah harga yang dapat menutupi seluruh biaya produksi walaupun dengan perolehan laba yang minimal.
b.      Faktor bukan biaya, merupakan faktor yang berasal dari luar perusahaan yang dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam menentukan harga jual produk atau jasa. Faktor ini tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh perusahaan karena faktor tersebut merupakan kegiatan yang bersifat timbal balik antara perusahaan dengan pasar. Berikut ini faktor-faktor tersebut antara lain:
1)      Keadaan perekonomian, perubahan kondisi perekonomian suatu negara seperti perubahan inflasi dan deflasi dapat mempengaruhi harga suatu barang atau jasa yang diperjual-belikan di masyarakat.
2)      Permintaan dan penawaran pasar, permintaan merupakan jumlah barang atau jasa yang diinginkan oleh konsumen di pasar pada tingkat harga beli tertentu, sedangkan penawaran adalah total barang atau jasa yang ditawarkan oleh produsen di pasar pada tingkat harga jual tertentu. Oleh karena itu, permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa harus dipertemukan dengan penawaran pasar sehingga terbentuk suatu harga keseimbangan di mana harga tersebut merupakan harga jual yang diinginkan perusahaan dan juga merupakan harga yang sesuai dengan permintaan konsumen.
3)      Elastisitas permintaan, elastisitas permintaan adalah kepekaan perubahan permintaan akan barang atau jasa terhadap perubahan harga. Elastisitas ini membantu manajer untuk memahami apakah suatu bentuk permintaan itu elastis atau inelastis. Elastis berarti perubahan sekian persen pada harga menyebabkan perubahan persentase permintaan yang lebih besar, sedangkan inelastis berarti perubahan sekian persen pada harga secara relatif sedikit mengubah persentase permintaan.
4)      Tipe pasar, ada empat jenis struktur pasar yaitu pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli, dan monopoli. Pasar-pasar ini memiliki perbedaan dalam jumlah pembeli dan penjual, tingkat keunikan produk atau jasa yang dihasilkan, seberapa besar rintangan untuk memasuki pasar, dan biaya khusus yang harus dikeluarkan.
5)      Pengawasan pemerintah pengawasan pemerintah biasanya dilakukan untuk mengontrol besaran harga barang atau jasa yang beredar dimasyarakat agar tetap sesuai dengan keinginan perusahaan dan kemampuan masyarakat. Citra atau kesan masyarakat, semakin tinggi citra suatu produk di masyarakat akan menyebabkan produsen menetapkan harga jual yang tinggi.
6)      Tanggung jawab sosial perusahaan, penentuan harga jual barang atau jasa suatu perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh rasa tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat. Hal ini dikarenakan tujuan didirikannya perusahaan bukan hanya untuk mencari laba tetapi juga untuk melayani atau memenuhi kebutuhan masyarakat.
7)      Tujuan non laba (nirlaba), pada organisasi non laba (nirlaba), laba bukan merupakan tujuan utama berdirinya organisasi tersebut tetapi bertujuan untuk melayani masyarakat agar tingkat kehidupannya lebih sejahtera. Pada umumnya produk yang dihasilkan oleh perusahaan non laba berupa jasa yang harga jual produknya ditentukan sama dengan total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2009:157), dalam keputusan penetapan harga sebuah perusahaan dipengaruhi baik dari faktor internal maupun dari faktor eksternal, yaitu :
a. Faktor Internal Perusahaan 
1)      Tujuan Pemasaran Perusahaan
Semakin jelas tujuan suatu perusahaan, semakin mudah pula perusahaan tersebut dalam menetapkan harganya. Tujuan tersebut dapat berupa maksimalisasi keuntungan masa sekarang, untuk kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar yang besar, dan meraih kepemimpinan dalam hal kualitas produk, dan lain-lain.
2)      Strategi Bauran Pemasaran
Harga merupakan salah satu alat bauran pemasaran yang digunakan perusahaan dalam mencapai tujuan pemasarannya. Perusahaan juga seringkali menempatkan produk mereka melalui harga, dimana harga dalam hal ini menjadi factor ysng menentukan pasaran produk, persaingan, dan rancangan produk.
3)      Biaya
Biaya menjadi dasar harga yang dapat ditetapkan perusahaan terhadap produknya agar tidak mengalami kerugian.
4)      Pertimbangan Organisasi
Perusahaan-perusahaan menetapkan harga dengan berbagai cara. Dalam perusahaan kecil, harga seringkali ditetapkan oleh manajemenn puncak, dan bukan oleh departemen pemasaran atau penjualan. Dalam perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer-manajer divisi ataupun lini produk. 
b. Faktor Eksternal Perusahaan 
1)      Pasar dan Permintaan
Sebelum menetapkan harga, seorang pemasar harus memahami hubungan antara harga dengan pasar dan permintaan atas produknya. Apakah pasar tersebut termasuk ke dalam pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopolistik, maupun monopoli murni. 
2)      Persaingan
Kebebasan perusahaan dalam menentukan harga itu bergantung pada jenis pasar yang berbeda-beda.  
c.  Faktor Eksternal Lainnya 
Ketika menetapkan harga, perusahaan juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar perusahaan. Keadaan ekonomi dapat mempengaruhi penetapan harga. Faktor-faktor ekonomi sepeti inflasi, atau tingkat bunga dapat mempengaruhi keputusan penetapan harga, karena dapat mempengaruhi baik biaya produksi maupun persepsi konsumen terhadap harga dan nilai produk
4.      Tujuan Penetapan Harga Jual
Sebelum memutuskan untuk menetapkan  suatu harga tertentu perusahaan harus menentukan apa yang ingin dicapainya dengan penetapan harga tersebut. Mulyadi (2001:78) menyatakan bahwa pada prinsipnya harga jual harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Kotler dan Keller (2009:138) menyatakan bahwa tujuan penetapan harga, yaitu:
a)      Kelangsungan hidup 
Perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai tujuan utamanya. Dalam menetapkan harga perusahaan hanya berprinsip selama harga dapat menutupi biaya variabel dan biaya tetap, maka perusahaan dapat terus berjalan. 
b)      Laba sekarang maksimum 
Banyak perusahaan yang mencoba untuk menetapkan harga yang akan memaksimalkan laba sekarang. Mereka memperkirakan permintaan dan biaya yang berkaitan dengan alternatif harga dan memilih harga yang akan manghasilkan laba sekarang atau pengembalian maksimum. 
c)      Pendapatan sekarang maksimum 
Perusahaan menetapkan harga yang  akan memaksimalkan pendapatan penjualan. Maksimasi pendapatan hanya membutuhkan perkiraan fungsi permintaan. Banyak manajer percaya  bahwa maksimasi pendapatan akan menghasilkan maksimasi laba jangka dan pertumbuhan pangsa pasar. 
d)     Pertumbuhan Penjualan Maksimum 
Perusahaan ingin memaksimalkan unit penjualan. Dengan penjualan yang lebih tinggi diharapkan biaya per-unit yang lebih  rendah dan laba jangka panjang yang lebih tinggi. Perusahaan menetapkan harga terendah dengan konsumsi bahwa pasar peka terhadap harga.
e)      Skiming Pasar Maksimum 
Perusahaan menetapkan harga tinggi untuk men-skim pasar perusahan menetapkan harga yang layak bagi beberapa segmen pasar untuk meerima produk tersebut dengan cara ini perusahaan akan memperoleh pendapatan maksimum dari berbagai segmen pasar. Skiming pasar hanya mungkin dalam kondisi-kondisi berikut: 
                                i.            Sejumlah pembeli yang memadai memiliki permintaan sekarang yang tinggi. 
                              ii.            Biaya perunit untuk memproduksi volume kecil tidak demikian tinggi sehingga dapat menghilangkan keuntungan dari penetapan harga maksimal yang dapat diserap pasar. 
                            iii.            Harga yang tinggi menyatakan citra produk unggul. 
f)       Kepemimpinan Kualitas Produk 
Perusahaan mungkin mengaharapkan untuk menjadi pemimpin dalam kualitas produk di pasar. Perusahaan memproduksi produk yang bermutu tinggi dan menetapkan harga yang lebih tinggi. 
g)      Tujuan Penetapan Harga Lainnya 
Organisasi non laba mungkin mengikuti  sejumlah tujuan penetapan harga lainnya misalnya rumah sakit mungkin memperoleh pengembalian sepenuhnya dalam penetapan harga.
5.      Metode Penentuan Harga Jual
Menurut Mulyadi (2001:348) empat metode penentuan harga jual yaitu penetuan harga jual dalam keadaan normal (cost plus pricing), penentuan harga jual dalam cost type contract, dan penentuan harga jual pesanan khusus, penentuan harga jual atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang diatur dengan peraturan pemerintah.
Menurut L.M Samryn (2012:350), penetapan harga pokok produk untuk penetapan harga memerlukan empat langkah sebagai berikut :
a.       Memutuskan kategori biaya fungsi bisnis mana yang harus di masukkan dalam komponen harga produk.
b.      Menghitung biaya produksi langsung untuk tiap kategori biaya relevan
c.       Menghitung biaya-biaya, produksi tidak langsung dari tiap kategori biaya relevan.
d.      Menghitung total harga pokok produk dengan menjumlah biaya-biaya produksi langsung
e.       Penetapan harga pokok dapat dilakukan dengan pendekatan full costing dan variabel costing.
Menurut Morray. J, dkk (2014) Ada tiga metode yang dapat diambil oleh pihak manajemen dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dalam menentukan harga jual, yaitu dengan metode cost plus pricing menggunakan pendekatan full costing, variable costing, metode markup pricing dan metode penenentuan harga oleh produsen.
Swastha Basu (2005:154) menyatakan bahwa metode penentuan harga jual yang berdasarkan biaya dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu :
a.      Cost plus pricing method
Penentuan harga jual cost plus pricing, biaya yang digunakan sebagai dasar penentuan, dapat didefinisikan sesuai dengan metode penentuan harga pokok produk yang digunakan. Dalam menghitung cost plus pricing, digunakan rumus : Harga jual = Biaya total + Margin
b.      Markup pricing method
Markup pricing banyak digunakan oleh para pedagang. Para pedagang akan menentukan harga jualnya dengan cara menambahkan markup yang diinginkan pada harga beli per satuan. Persentase yang ditetapkan berbeda untuk setiap jenis barang. Dalam menghitung harga jual, menggunakan rumus : Harga jual = Harga beli + Markup
c.       Penentuan harga oleh produsen
Dalam metode ini, harga yang ditetapkan oleh perusahaan adalah awal dari rangkaian harga yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam saluran ditribusi. Karena itu, penetapan harga oleh produsen memegang peranan penting dalam menentukan harga akhir barang. Dalam menetapkan harga jualnya, produsen dapat berorientasi pada biaya. Proses penetapan harga dimulai dengan menghitung biaya per unit barang yang dihasilkan, kemudian menambahkan sejumlah markup tertentu. Produsen menggunakan rumus yang mereka anggap cocok bagi mereka, tentunya berdasarkan pengamatan atas produk yang dihasilkannya. Setiap produk mempunyai pola biaya yang berbeda satu sama lainnya.
6.        Metode Cost Plus Pricing
Menurut Mulyadi (2001:346) metode penentuan harga jual normal seringkali disebut dengan istilah cost-plus pricing, karena harga jual ditentukan dengan menambah biaya masa yang akan dating dengan suatu persentase markup (tambahan di atas jumlah biaya) yang dihitung dengan formula tertentu. Cost plus pricing adalah penentuan harga jual dengan cara dengan cara menambahkan laba yang diharapkan di atas biaya penuh masa yang akan datang untuk memproduksi dan memasarkan produk.
Garrison dkk (2008:125) menyatakan bahwa cost plus pricing adalah proses penentuan harga jual dengan cara menghitung biaya produksi perunit, memutuskan berapa laba yang diinginkan , kemudian menentukan harga jual.  
Dalam metode ini, penjual atau produsen menetapkan harga jual untuk satu unit barang yang besarnya sama dengan jumlah biaya per unit ditambah dengan suatu jumlah untuk menutup laba yang diinginkan (disebut marjin) pada unit tersebut. Dalam pengertian yang lebih ringkas bisa dikatakan bahwa cost-plus pricing method adalah metode penetapan harga jual produk dengan cara menambahkan biaya total produksi dengan nilai marjinnya.
Adapun formula dari metode cost-plus pricing method adalah sebagai berikut:
Harga Jual = Taksiran Biaya Penuh + Laba Yang Diharapkan

Menurut Mulyadi (2001:349) taksiran biaya penuh dapat dapat dihitung dengan dua pendekatan yaitu pendekatan full costing dan variabel costing. Dalam pendekatan full costing, taksiran biaya penuh yang dipakai sebagai dasar penentuan harga jual terdiri dari unsur-unsur seperti di bawah ini :
Biaya bahan baku                                            xxx
Biaya tenaga kerja langsung                           xxx
Biaya overhead pabrik (variabel + tetap)        xxx                             
Taksiran total biaya produksi                                                  xxx
Biaya administrasi dan umum                         xxx
Biaya pemasaran                                             xxx                             
Taksiran biaya komersial                                                         xxx     
Taksiran biaya penuh                                                           xxx
            Dalam pendekatan variabel costing, taksiran biaya penuh yang dipakai sebagai sebagai dasar penentuan harga jual terdiri dari unsur-unsur dibawah ini.
            Biaya variabel
Biaya bahan baku                                            xxx
Biaya tenaga kerja langsung                           xxx
Biaya overhead pabrik variabel                       xxx                             
Taksiran total biaya produksi variabel                                    xxx
Biaya administrasi dan umum variabel           xxx
Biaya pemasaran variabel                                xxx                             
Taksiran total biaya variabel                                                   xxx     
Biaya tetap
Biaya overhead pabrik tetap                           xxx
Biaya administrasi dan umum tetap                xxx
Biaya pemasaran tetap                                    xxx                             
Taksiran total biaya tetap                                                        xxx     
Taksiran biaya penuh                                                           xxx
Jika biaya dipakai sebagai dasar penentuan harga jual, baik dalam pendekatan full costing maupun variabel costing, biaya penuh masa yang akan datang akan dibagi menjadi dua yaitu biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh volume produk dan biaya penuh yang tidak dipengaruhi oleh volume produk. Dalam penentuan harga jual, taksiran biaya penuh yang secara langsung berhubungan dengan volume produk dipakai sebagai dasar penentuan harga jual, sedangkan taksiran biaya penuh yang tidak dipengaruhi oleh volume produk ditambahkan kepada laba yang diharapkan untuk kepentingan perhitungan markup. (Mulyadi, 2001: 351)
Menurut Mulyadi (2001:351) perhitungan harga jual atas atas dasar biaya secara umum dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Harga jual per unit
=
biaya yang berhubungan langsung dengan volume (per unit)
+
Persentase markup




Menurut Mulyadi (2001:351) persentase markup dihitung dengan rumus :
Persentase Markup
=
Laba yang diharapkan
+
Biaya yang tidak langsung oleh volume produk
Biaya yang diperlukan langsung oleh volume produksi

B.     Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penentuan harga jual produk dengan menggunakan analisis cost plus pricing yaitu :
1.      IRVANA MARINA KONDOY, VENTJE ILAT, WINSTON PONTOH (2015) dengan judul Penerapan Cost Plus Pricing Dalam Keputusan Penetapan Harga Jual Untuk Pesanan Khusus Pada UD. Dewa Bakery Manado. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan menggunakan metode cost plus pricing, perusahaan menetapkan harga jual normal per unit roti dengan harga Rp.3150, ketika perusahaan mendapat 2.000 pesanan khusus dengan harga Rp. 2.700 per unit, bila dianalisis dengan metode cost plus pricing perusahaan masih mendapat keuntungan sebesar Rp 800.000,-
2.      REFTI YUNINGSIH (2015) dengan judul Analisis Perhitungan Metode Cost Plus Pricing Dalam Menentukan Harga Jual Produk Pada PT.Wonojati Wijoyo Kediri. Hasil yang diperoleh di dalam penelitian menggunakan metode cost plus pricing menunjukkan bahwa harga jual produk meja terdapat selisih antara perhitungan perusahaan dengan perhitungan menggunakan  metode Cost Plus Pricing yang memperhitungkan biaya produksi dan biaya non produksi. Seperti di tahun 2013 perhitungan dengan menggunakan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp 5.065.940,73. Sedangkan perusahaan menentukan harga jual tanpa menggunakan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp 4.875.000. Sehingga ada selisih antara perhitungan metode cost plus pricing dengan perhitungan perusahaan sebesar Rp 190.940,73.
3.      WORO PRIHASTUTI (2013) dengan judul Perbandingan Hasil Perhitungan Tarif Jasa Kamar Rawat Inap Berdasarkan Metode Cost Plus Pricing Melalui Pendekatan Full Costing Periode 2012 (Studi Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakartadan RSUD Kota Yogyakarta). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode yang diterapkan RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RSUD Kota Yogyakarta untuk menentukan tarif kamar rawat inap adalah metode unit cost. Sedangkan perhitungan tarif jasa kamar rawat inap dengan menggunakan metode cost plus pricing melalui pendekatan full costing pada RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk kelas VIP sebesar Rp313.399,00, kelas I sebesar Rp 235.702,00, kelas II sebesar Rp176.095,00, kelas III sebesar Rp116.129.,00. Sedangkan tarif jasa kamar rawat inap pada RSUD Kota Yogyakarta untuk kelas VIP sebesar Rp127.111,00, kelas I sebesar Rp77.972,00, kelas II sebesar Rp 60.104,00, kelas III sebesar Rp57.342,00.

C.    Kerangka Pikir
Berdasarkan kajian teori di atas, maka dapat dibuat kerangka pikir sebagai berikut :



HARGA JUAL
COST PLUS PRICING

BIAYA TOTAL
MARKUP
 
















Gambar 2.1 Kerangka Pikir
                                                                                



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tempat dan waktu Penelitian
1.      Penelitian ini akan dilakukan di PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar yang terletak di Kawasan Industri Makassar (KIMA) Jl. Kima X, Kav. A No. 2B, Kel. Daya, Kec. Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan 90241.
2.      Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari – April 2017.
B.     Jenis dan Sumber data
1.      Jenis Data
Untuk mendukung penelitian, maka jenis data yang dibutuhkan adalah data kuantitatif.
2.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a)      Data Primer, berupa laporan keuangan dari PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk Makassar.
b)      Data Sekunder, berupa dokumen perusahaan atau yang berhubungan dengan perusahaan dan literatur serta artikel yang relevan dengan objek penelitian
C.    Metode Analisis Data
            Metode analisis dalam pelitian ini adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan perhitungan cost plus pricing dengan pendekatan metode  full costing sebagai berikut :
1.      Biaya Produksi
= BBB + BTKL + BOP
2.      Biaya Total
= Biaya Produksi + Biaya Pemasaran + Biaya Adm & Umum
3.      Biaya per Unit
= Jumlah Biaya Total / Volume Produksi
4.      Laba yang dikehendaki
= % Laba yang dikehendaki x Jumlah aktiva yang digunakan
5.      Persentase Markup
= Laba yang dikehendaki / jumlah biaya total x 100%
6.      Markup per Unit
= Persentase markup x biaya per unit
7.      Harga Jual per Unit
= Biaya per unit + Markup per unit

D.    Definisi Operasional variabel
1.      Harga jual adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan
2.      Cost plus pricing adalah metode penentuan harga jual dengan menggunakan cara menambahkan laba yang diharapkan di atas biaya penuh



DAFTAR PUSTAKA

Garrison, Noreen dan Brewer. 2008. Akuntansi Manajerial, Edisi 14. Jakarta : Salemba Empat
Irvana Marina Kondoy, Ventje Ilat, Winston Pontoh, 2015. Penerapan Cost Plus Pricing Dalam Keputusan Penetapan Harga Jual Untuk Pesanan Khusus Pada UD. Dewa Bakery Manado. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 15 No. 03 Tahun 2015. Jurusan Ekonomi Pembangunan – FEB Universitas Sam Ratulangi Manado
Jessica C. Moray, D.P.E. Saerang., T. Runtu. 2014. Penetapan Harga Jual Dengan Cost Plus Pricing Menggunakan Pendekatan Full Costing Pada UD Gladys Bakery. Jurnal EMBA Vol.2 No.2 Juni 2014, Hal. 1272-1283
Kotller, Philip and Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi 13 Jilid 2. Jakarta : Erlangga
L.M. Samryn, 2012. Akuntansi Manajemen. Informasi Biaya untuk Mengendalikan Aktivitas Operasi dan Informasi. Edisi Pertama. Jakarta Kencana Prenada Media Group.
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Edisi Ketiga. Jakarta : Salemba Empat
Nova Pungki. 2015. Penentuan Harga Jual. http://novapungki.blogspot.co.id/2015/04/penentuan-harga-jual.html di akses tanggal 28 September 2016
Refti Yuningsih, 2015. Analisis Perhitungan Metode Cost Plus Pricing Dalam Menentukan Harga Jual Produk Pada PT.Wonojati Wijoyo Kediri. Artikel Skripsi Universitas Nusantara PGRI Kediri
Restu Alpiansyah, 2016. Target Costing and Cost Plus Pricing. https://restualpiansah.wordpress.com/2016/03/12/target-costing-and-cost-plus-pricing/ di akses tanggal 28 September 2016
Swastha Basu. 2005. Manajemen Penjualan, Edisi 2. Yogyakarta : BPFE

Woro Prihastuti, 2013. Perbandingan Hasil Perhitungan Tarif Jasa Kamar Rawat Inap Berdasarkan Metode Cost Plus Pricing Melalui Pendekatan Full Costing Periode 2012 (Studi Kasus RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta Dan RSUD Kota Yogyakarta).Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar